Senin, 13 Februari 2012

Metode Pembelajaran NHT

Artikel ilmiah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika 1. Silakan di-download, barangkali bisa menjadi bahan referensi. Saya akui masih banyak kekurangan pada artikel ini, sehingga saya perlu berlatih untuk bisa membuat yang lebih baik.
Untuk men-download, klik di sini

Sabtu, 04 Februari 2012

Perjalanan Menuju PKM

“Kenapa himatika memberiku masalah seberat ini?”, ocehku saat ku-starter sepeda motorku. Ingin rasanya aku teriakkan kalimat itu di hadapan semua orang supaya mereka tahu aku sedang ditimpa masalah yang berat di Himatika.
Di tengah kepenatanku yang tak kunjung melebur, aku coba beranjak dan menuju rumah ketigaku, PKM. Hampir di setiap putaran roda motorku menuju PKM, aku termenung sambil menggumam, “ah, apa yang sebenarnya aku pikirkan?”, ”tidak ada sepertinya”, jawabku sendiri. Dalam benakku kenapa aku bertanya dan menjawab pertanyanku sendiri. Apakah permasalahan di Himatika telah menjadikanku stres. Terbesit di pikiranku suatu kalimat yang pernah aku dengar dari layar kaca. Kalimat itu berbunyi,”Stres bisa menjadi pemicu seseorang mengalami kegilaan”. Aku ini petinggi Himatika, apa jadinya kalau aku gila karena hal seperti ini.”ah, apa-apaan, aku tidak mau sampai ada Kongres Luar Biasa hanya gara-gara petinggi Himatikanya sudah gila”.
Setengah perjalanan berlalu, tiba-tiba aku merasa seakan-akan ada bayangan yang tanpa ijin duduk membonceng. Bayangan itu mirip sekali denganku. Dia membisikkan sesuatu,”hei..hei..yang benar saja....jangan fokus pada masalahmu, tapi fokuslah pada penyelesaiannya. Apa kau tidak malu pada pengurusmu? Kalimat itu kan yang selalu kau katakan pada mereka.” Aku diam saja termenung. Pandanganku makin kosong. Bahkan aku sudah tidak mempedulikan kemudiku.
Merasa telingaku terbebani ocehan bayangan itu, aku balas,”lalu apa solusinya? Kau mudah saja berkata demikian”. Bayangan itu kemudian perlahan menghilang. Benar-benar tidak bertanggung jawab, muncul dan menghilang begitu saja tanpa memberikan solusi. Malah menambah-nambahi pikiran saja.
Sesampainya di PKM, pikiranku masih saja berkecamuk tak karuan. Di tengah kepenatanku, tampak dari luar sebuah pintu yang samar-samar tergambar sebuah lambang. “Hmm...lambang Himatika”, batinku. Dengan mata sayu dan dahi mengernyit, aku menatapnya dalam-dalam. Kulihat ada gambar pena dan buku di sana. Timbul rasa frustasi atau suatu kekecewaan yang mendalam dari pikiran ini. Entah karena pikiran ini sudah buntu dan menyerah untuk menemukan solusi, pelampiasanku tertuju pada lambang Himatika tersebut. “Ayolah...hey pena..dan kau buku..ayo tuliskan solusi untukku..Atau mungkin kau kurva, ayo tunjukkan padaku mana arah yang benar”. Mereka tak bergeming sedikitpun. “ah...sudah gila aku rupanya”,pikirku.
Dan pada saat aku membuka pintu itu, tanpa sadar ada suara yang memanggilku,”halo mas,..”. satu suara, oh tidak, ada banyak suara ternyata,”mas...mas...kalau masuk salam dulu dong, bikin kaget aja”.
Bahkan ada suara yang berkata,”mas....udah maem belum, maem yuk, biasanya mas nraktir kita semua,hehe”. suara lainnya,”eh...nitip bakso mini dong kalau kalian maem,hehe, jus sekalian ya”.
Aku hanya mematung sejenak, tanpa tahu sebenarnya ada apa ini. Tiba-tiba tubuhku yang semula lemas sedikit demi sedikit menjadi segar kembali. Dahiku tak lagi mengkerut tanda aku sudah tak lagi terbebani masalah. “ada apa ini?”gumamku. “mas, ko’ malah diam saja mas, jadi enggak nih?”salah satu suara menyadarkan lamunanku. Aku tersadar bahwa aku sedang berdiri di pintu dan di hadapan seluruh adik-adikku yang sangat aku sayangi. Tak kusangka PKM begitu ramai oleh mereka. Candaan, senyuman, sapaan, dan tawa mereka benar-benar menghancurkan batu kegelisahan yang sedari tadi menindih tubuhku. Hancur berkeping-keping, tak bersisa sedikitpun. Dalam benakku,”kenapa ini?”. Permasalahan yang kuhadapi hingga aku hampir menjadi gila sudah lenyap dalam sekejap. Bahkan tanpa aku tahu bagaimana penyelesaiannya.
Kemudian perhatianku beralih pada STO Himatika yang terpampang di atas sana. Aku memandangnya, tanpa berkedip sedikitpun, memperhatikan satu per satu wajah-wajah orang yang kini mewarnai hidupku. Tak tahu kenapa, senyumku mulai merekah, mataku berkaca-kaca, aku merasa aku sedang ditimpa penyakit bernama terharu. Ya...terharu, terharu karena bangga bahwa aku punya pengurus seperti mereka semua. aku senang, senang bukan kepalang walau dengan hanya menatap mereka saling bercanda. Aku telah menemukan obat yang tepat untuk menetralisir virus-virus kegalauan karena permasalahan yang akut di Himatika. Obat yang sangat murah, bahkan dapat dengan mudah diperoleh. Ingin sekali aku kabarkan ini ke semua orang terutama pengurusku sendiri. Bahwa obat itu adalah Himatika itu sendiri.
(terimakasih Himatika, kau telah mengijinkanku mengenal mereka semua. dan termakasih pula telah menyandangkanku nama “ketua” sebelum namamu sendiri).